Kepiting Kelapa Membutuhkan Penangkaran Khusus

Keberadaan spesies birgus latro atau coconut crab, atau di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan kepiting Kenari atau kepiting Kelapa, merupakan type arthropoda darat terbesar di dunia. Penyebaran kepiting Kelapa (birgus latro) lumayan luas, yakni tersebar terasa berasal dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, berdekatan dengan garis khatulistiwa. Kepiting Kelapa ini juga membutuhkan tempat penangkaran semacam Taman Nasinonal di Indonesia.

Sebenarnya penyebutan kepiting atau kepiting tidak pas karena hewan ini masuk di dalam kekerabatan umang-umang darat (ceonobita) yang terlalu maju di dalam hal evolusi. Jadi kemungkinan ia lebih pas disebut umang-umang kenari, tapi demikian masyarakat kepulauan Maluku udah menyebutnya kepiting kenari, di dalam bahasa Inggris disebut “terrestrial hermit crab”. Tubuh kepiting kenari dibagi jadi anggota depan (kepala-dada atau sefalotoraks), dengan 10 kaki, dan abdomen (perut).

Sepasang kaki terdepan membawa capit besar dan cakar (chelae) ini bisa mengangkat benda sampai seberat 29 kg. Kematangan gonad kepiting kenari pada biasanya raih panjang karapas kurang lebih 5 cm (Whitten et al. 1987) atau pada usia 3,5 – 5 th. dan udah 8 kali mengalami perubahan kulit. Pada usia ini kepiting kenari udah terasa melaksanakan kesibukan perkawinan dan mengawali siklus baru di dalam hidupnya.

Proses Perkembang-Biakan Kepiting Kelapa

Pada proses perkawinan kepiting kenari, pada kepiting jantan & betina berkelahi satu sama lain, lalu kepiting jantan berbalik ke punggung betina untuk kawin. Seluruh proses perkawinan berjalan sekitar 15 menit. Setelah itu betina bakal bertelur dan melekatkan telur di bawah perutnya dan membawanya selama berbulan-bulan. Limbong (1983) mencatat bahwa telur yang dimiliki oleh seekor induk kepiting kelapa berjumlah ribuan.

Hampir semua kepiting kenari kudu mencari air untuk pertumbuhan larvanya. kepiting kelapa betina melewatkan telurnya ke laut pada pas air laut pasang tertinggi dan sesudah itu telur menetas. Kemudian larva-larva tersebut mengapung di lautan selama 28 hari. Setelah itu mereka hidup di dasar laut dan di pantai sebagai umang-umang dengan memakai cangkang siput yang kosong untuk berlindung selama 28 hari ke depan.

Setelah 28 hari, mereka meninggalkan lautan secara permanen dan kehilangan kemampuan bernafas di air. kepiting kenari merupakan hewan nocturnal atau hewan yang beraktifitas di malam hari. Hal tersebut dijalankan untuk menjauhkan mereka berasal dari pemangsa layaknya anjing, kadal, manusia dan lain-lain. kepiting Kelapa mencari makanan di sekitar pantai dengan dengan hewan nocturnal lainnya yakni kelomang darat dan kepiting.

Pada siang hari, mereka bakal menggunakan waktunya tidur di balik semak. Makanan utama kepiting kenari terdiri berasal dari buah, terhitung kelapa dan beringin. Tetapi, mereka bakal memakan hampir semua yang organik, layaknya daun, buah busuk, telur penyu, hewan mati, dan cangkang hewan lain, yang dipercaya menyediakan kalsium.

Lokasi Kepiting Kenari Banyak Tersebar Di Wilayah Indonesia Bagian Timur

Di Indonesia, kepiting kenari tersebar paling banyak di kawasan Indonesia TImur yakni Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara dan Kalimantan yakni di Pulau Derawan. Harga kepiting kenari terbilang lumayan tinggi, per ekornya berkisar Rp 100 ribu sampai Rp 300 ribu, bergantung besarnya. kepiting ini sesungguhnya bisa raih ukuran besar dengan panjang sekitar 40cm dan berat per ekor raih 4 kilogram.

Data tentang populasi kepiting kenari di Indonesia bisa dikatakan terlalu kurang. Jumlahnya menurun secara berarti karena terus dieksploitasi sebagai sumber protein hewani. Penangkapan kepiting kenari kerap dijalankan di beberapa area terluar Indonesia, dan kerap disalahgunakan sebagai pintu terlihat masuk penyelundupan. Secara hukum, kepiting kenari ditetapkan sebagai hewan yang dilindungi, sebagaimana tertera pada PP Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Satwa Liar.

Permintaan pasar bakal kepiting raksasa ini terus meningkat, tapi berbanding terbalik dengan ketersediaan spesies ini. Eksploitasinya tidak mendapat dukungan dengan upaya konservasi dan pengelolaan yang tepat, tentu bisa membawa dampak membawa dampak kepunahan. Kita tetap berharap terdapatnya suaka tersendiri bagi kepiting kenari. Agar spesies ini terus terjaga kelestariannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *